
BNP2TKI Membuka Lowongan Bekerja di Jepang
Permintaan dunia untuk tenaga perawat dari Indonesia saat ini sangat besar jumlahnya. Karena itu sekolah-sekolah perawat di tanah air perlu menyiapkan diri agar bisa memanfaatkan peluang kerja di luar negeri.
Harapan tersebut disampaikan Kepala BNP2TKI Moh Jumhur Hidayat saat bertatap muka dengan mahasiswa Politeknik Kesehatan Program Studi Keperawatan, di Kabupaten Tuban, Jatim.
Hadir dalam kesempatan ini antara lain Kabiro Adninistrasi dan KLN BNP2TKI Agusdin Subiantoro, Kabiro Administrasi dan Keuangan Ir. Yunafri, dan Kasubdit Pelayanan Kesehatan dr. Eali Rosalina. Selain itu hadir pula Kadisnakertrans Jatim Edy Umarjono, Kepala BP2TKI Surabaya Rahayu, dan Kepala Program Studi Keperawatan Tuban Adi Purwanto
Dipaparkannya untuk program G to G dengan Jepang saja, Indonesia masih harus menyediakan 800 tenaga kerja untuk tenaga perawat yang bekerja di rumah sakit dan tenaga perawat penjaga orang lanjut usia. Belum lagi permintaan serupa dari beberapa negara di Timur Tengah maupun di Asia Pasific.
Karena itu Jumhur Hidayat mengajak mahasiswa sekolah perawat untuk menambah kemampuan agar bisa memanfaatkan peluang yang ada di luar negeri, termasuk dengan peningkatan kemampuan berbahasa asing.
“Kalau mau maju anda harus ubah mindset dari berfikir inward looking (jago kandang) menjadi berfikir outward looking (berkompetisi di luar negeri). Anda akan banyak menimba pengalaman yang berguna bagi masa depan, selain tentu saja penghasilan yang besar dibanding bekerja di dalam negeri,” imbau Jumhur.
Ditambahkannya, gaji perawat di Jepang di luar lembur sekitar 17 juta rupiah per bulan, dan bila ditambah lembur bisa mencapai antara 20-25 juta rupiah per bulan. Sedang gaji untuk perawat lansia di luar lembur sekitar Rp 13 juta dan bisa mencapai Rp 20 juta bila ditambah lembur.
Jaminan Keamanan
Kepala BNP2TKI Moh Jumhur Hidayat memahami akibat pemberitaan media yang tak seimbang, banyak orang tua mahasiswa di Tuban, dan Jawa Timur umumnya yang khawatir tentang keselamatan anak-anaknya jika bekerja di luar negeri.
Namun ia meminta mahasiswa menepis kekhawatiran tersebut, karena pemerintah di negara-negara penerima tenaga perawat Indonesia menurutnya, akan memberi jaminan keamanan yang tinggi.
“Anda dilindungi oleh undang-undang ketenagakerjaan di negara setempat. Hampir tak pernah ada kasus-kasus TKI yang memilukan di luar negeri dari pekerja sektor formal ini. Saya jamin keselamatan anda,” ungkap Jumhur.
Sertifikasi Plus
Kasubdit Pelayanan Kesehatan BNP2TKI dr Elia Rosalina menambahkan, untuk bisa bekerja di luar negeri diperlukan bukti sertifikasi kompetensi. Menngingat banyaknya kebutuhan tenaga perawat, maka makin banyak sertifikasi yang dimiliki makin memudahkan calon tenaga kerja perawat diterima bekerja di luar negeri.
Kepada BNP2TKI.go.id, salah seorang alumni, Wahyuningsih mengungkapkan kenginannya untuk bisa lolos dalam seleksi kesempatan bekerja di Jepang. “Saya akan mempersiapkan diri dengan belajar bahasa Jepang dalam waktu dekat ini,” ujar dara manis berjilbab ini. (zul)
Sumber : www.bnp2tki.go.id
Harapan tersebut disampaikan Kepala BNP2TKI Moh Jumhur Hidayat saat bertatap muka dengan mahasiswa Politeknik Kesehatan Program Studi Keperawatan, di Kabupaten Tuban, Jatim.
Hadir dalam kesempatan ini antara lain Kabiro Adninistrasi dan KLN BNP2TKI Agusdin Subiantoro, Kabiro Administrasi dan Keuangan Ir. Yunafri, dan Kasubdit Pelayanan Kesehatan dr. Eali Rosalina. Selain itu hadir pula Kadisnakertrans Jatim Edy Umarjono, Kepala BP2TKI Surabaya Rahayu, dan Kepala Program Studi Keperawatan Tuban Adi Purwanto
Dipaparkannya untuk program G to G dengan Jepang saja, Indonesia masih harus menyediakan 800 tenaga kerja untuk tenaga perawat yang bekerja di rumah sakit dan tenaga perawat penjaga orang lanjut usia. Belum lagi permintaan serupa dari beberapa negara di Timur Tengah maupun di Asia Pasific.
Karena itu Jumhur Hidayat mengajak mahasiswa sekolah perawat untuk menambah kemampuan agar bisa memanfaatkan peluang yang ada di luar negeri, termasuk dengan peningkatan kemampuan berbahasa asing.
“Kalau mau maju anda harus ubah mindset dari berfikir inward looking (jago kandang) menjadi berfikir outward looking (berkompetisi di luar negeri). Anda akan banyak menimba pengalaman yang berguna bagi masa depan, selain tentu saja penghasilan yang besar dibanding bekerja di dalam negeri,” imbau Jumhur.
Ditambahkannya, gaji perawat di Jepang di luar lembur sekitar 17 juta rupiah per bulan, dan bila ditambah lembur bisa mencapai antara 20-25 juta rupiah per bulan. Sedang gaji untuk perawat lansia di luar lembur sekitar Rp 13 juta dan bisa mencapai Rp 20 juta bila ditambah lembur.
Jaminan Keamanan
Kepala BNP2TKI Moh Jumhur Hidayat memahami akibat pemberitaan media yang tak seimbang, banyak orang tua mahasiswa di Tuban, dan Jawa Timur umumnya yang khawatir tentang keselamatan anak-anaknya jika bekerja di luar negeri.
Namun ia meminta mahasiswa menepis kekhawatiran tersebut, karena pemerintah di negara-negara penerima tenaga perawat Indonesia menurutnya, akan memberi jaminan keamanan yang tinggi.
“Anda dilindungi oleh undang-undang ketenagakerjaan di negara setempat. Hampir tak pernah ada kasus-kasus TKI yang memilukan di luar negeri dari pekerja sektor formal ini. Saya jamin keselamatan anda,” ungkap Jumhur.
Sertifikasi Plus
Kasubdit Pelayanan Kesehatan BNP2TKI dr Elia Rosalina menambahkan, untuk bisa bekerja di luar negeri diperlukan bukti sertifikasi kompetensi. Menngingat banyaknya kebutuhan tenaga perawat, maka makin banyak sertifikasi yang dimiliki makin memudahkan calon tenaga kerja perawat diterima bekerja di luar negeri.
Kepada BNP2TKI.go.id, salah seorang alumni, Wahyuningsih mengungkapkan kenginannya untuk bisa lolos dalam seleksi kesempatan bekerja di Jepang. “Saya akan mempersiapkan diri dengan belajar bahasa Jepang dalam waktu dekat ini,” ujar dara manis berjilbab ini. (zul)
Sumber : www.bnp2tki.go.id